A Milestone · 12 September 2026

The Book Has Entered the World.

The official launch of The Art of Heroic Leadership took place at Books Kinokuniya, Grand Indonesia, Jakarta. It marked the beginning of a wider conversation about systemic awareness, leadership presence, and trustworthy shared action.

When
Saturday, 12 September 2026
Where
Books Kinokuniya · Grand Indonesia, Jakarta
Authors
Zulfikar M. Rachman & Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf
Moderator
Dr. Rahmat Mulyana
Official poster of the September 2026 book launch at Books Kinokuniya
Voices on the Book

Different perspectives. One deeper question.

Leaders, educators, and thinkers have encountered the book from different vantage points. What do they recognize in its invitation to see more clearly and act more responsibly?

“The authors are heroes who nurture other heroes.”
Cherie Nursalim
Co-Founder, United in Diversity Foundation
“The Art of Heroic Leadership offers a timely contribution from Indonesia to the wider conversation on what leadership must now become.”
Amb. Tantowi Yahya
President, United in Diversity Foundation
Lihat 5 endorsement lainnya
In the News

The launch in the public conversation.

Dua liputan memperkenalkan kelahiran buku ini dan percakapan yang menyertainya. Baca ringkasan di bawah untuk memilih cerita yang ingin Anda ikuti lebih jauh.

Buku “The Art of Heroic Leadership” resmi diluncurkan

ANTARA memperkenalkan buku karya Zulfikar M. Rachman dan Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf menjelang peluncurannya di Kinokuniya Grand Indonesia. Liputan ini mengangkat gagasan systemic blindness: kegagalan kepemimpinan tidak selalu bersumber dari kurangnya data atau kemampuan, tetapi juga dari keterbatasan kita memahami sistem tempat keputusan diambil.

Kedua penulis menjelaskan bahwa kepemimpinan yang mereka tawarkan tidak berhenti pada teknik manajemen. Ada perhatian pada kehadiran diri (presence), kesiapan batin, dan cara membangun tindakan bersama yang tepercaya melalui semangat Gotong Royong 2.0.

Bagi pembaca yang baru mengenal buku ini, artikel ANTARA memberikan konteks awal yang ringkas: mengapa buku ini ditulis, siapa penulisnya, serta pertanyaan mendasar yang ingin dibawa ke percakapan publik.

Baca artikel ANTARA →

Buku The Art of Heroic Leadership Diluncurkan, Tawarkan Perspektif Baru Kepemimpinan di Era Kompleksitas

Bagaimana sebuah buku kepemimpinan lahir dari kegelisahan terhadap cara kita melihat persoalan? Pojok Indonesia meliput peluncuran The Art of Heroic Leadership di Kinokuniya, Grand Indonesia, Jakarta, pada 12 September 2026. Artikel ini memperkenalkan kedua penulis, Zulfikar M. Rachman dan Dr. Ahmad Mukhlis Yusuf, sekaligus persoalan utama yang mereka angkat: systemic blindness. Informasi dan data yang berlimpah tidak otomatis membuat seorang pemimpin memahami keterkaitan seluruh unsur dalam sistemnya.

Dalam liputan tersebut, Coach AMY menjelaskan bahwa kompleksitas dan saling ketergantungan dapat membuat pemimpin merasa telah melihat seluruh persoalan, padahal baru sebagian. Coach Kangzul meluruskan makna heroic: bukan sosok penyelamat tunggal yang berada di luar sistem, melainkan pemimpin yang mau melihat titik butanya, mengenali perannya sendiri, dan membangun kehadiran yang lebih utuh bersama orang lain. Artikel juga memperkenalkan presence, kesadaran batin, dan Gotong Royong 2.0 sebagai bagian dari undangan buku ini.

Laporan ini membawa pembaca masuk ke suasana peluncuran: diskusi yang dimoderatori Dr. Rahmat Mulyana mengenai Systems, Self, Shift, dialog dengan praktisi dan eksekutif, serta sesi tanya jawab, penandatanganan buku, dan jejaring. Bacalah jika Anda ingin memahami siapa yang berada di balik buku ini, apa yang dipersoalkan, dan bagaimana gagasannya diperkenalkan kepada publik—bukan sekadar mengetahui bahwa sebuah acara peluncuran telah berlangsung.

Baca liputan lengkap Pojok Indonesia ↗
Book Reviews · Resensi Buku

Reading the book through different lenses.

Berita peluncuran memberi konteks. Resensi mengajak kita membaca argumen dan mengujinya. Dua pembacaan berikut menawarkan perspektif yang berbeda atas pertanyaan utama buku—mulai dari titik buta hingga tanggung jawab kelembagaan.

Ketika Kepemimpinan Harus Belajar Melihat

Yudha Heryawan Asnawi menyoroti keputusan penulis untuk memulai pembahasan kepemimpinan bukan dari kehebatan tokoh atau kecanggihan strategi, melainkan dari sesuatu yang sering terlewat: kebutaan kita terhadap diri sendiri dan sistem yang kita hidupi. Dari sana, resensi ini membaca kepemimpinan sebagai perjalanan menuju pemahaman yang lebih jernih sebelum bertindak.

Ulasannya juga mengkritisi keyakinan bahwa eksekusi yang semakin disiplin otomatis menghasilkan perubahan yang lebih baik. Ketika pemahaman awal terhadap persoalan keliru, kemampuan mengeksekusi justru dapat memperkuat kesalahan tersebut. Karena itu, isu systemic blindness menjadi sangat penting bagi pemimpin yang bekerja di tengah hubungan, insentif, dan kepentingan yang rumit.

Resensi ini kemudian menelusuri tiga gerakan dalam buku—Descent, Re-Formation, dan Widening—untuk menunjukkan bagaimana kesadaran personal dikaitkan dengan tanggung jawab, relasi, serta tindakan bersama yang dapat dipercaya. Bacaan yang relevan bagi mereka yang ingin memahami argumen buku, bukan hanya sinopsisnya.

Baca resensi di Republika →

Menembus Titik Buta Sistemik Menuju Aksi Kolektif

Apa arti kepemimpinan heroik ketika masalah tidak bisa diselesaikan oleh satu sosok pemimpin? Dalam resensi akademisnya, Kolier L. Haryanto membaca The Art of Heroic Leadership sebagai upaya mengalihkan perhatian dari karisma dan kecakapan pribadi menuju kesadaran tentang pola berpikir serta struktur kelembagaan yang membentuk keputusan. Ia menyoroti systemic blindness: organisasi dapat memiliki banyak data, menyusun laporan yang rapi, dan mencapai target administratif, tetapi tetap gagal memahami persoalan atau dampak yang sungguh dialami masyarakat.

Kolier kemudian menempatkan buku ini dalam percakapan yang lebih luas bersama kajian heroisme, systems thinking, dan Theory U. Ia melihat pergeseran dari sosok penyelamat menuju collective agency—dari ego menuju eco. Keberanian seorang pemimpin tidak hanya diukur dari kemampuannya bertindak, tetapi juga dari kesediaannya menguji asumsi, menerima kritik, dan memungkinkan orang lain ikut memahami serta mengatasi masalah. Baginya, inner work mempunyai makna etis yang konkret, namun harus bekerja bersama data, empati, dan pemeriksaan fakta.

Yang membuat resensi ini layak dibaca lebih jauh adalah catatan kritisnya tentang institusi. Kesadaran dan integritas pemimpin saja tidak menjamin perubahan apabila insentif, prosedur, atau budaya organisasi justru menghambat pembelajaran. Kolier menghubungkan kepercayaan dengan psychological safety, tata kelola yang adil, transparansi, serta mekanisme koreksi diri. Ia menantang pembaca untuk bertanya bukan hanya apakah seorang pemimpin itu baik, tetapi apakah sistem tetap dapat belajar dan memperbaiki kesalahannya ketika pemimpin tersebut tidak lagi berada di sana.

Resensi ini juga menempatkan kolaborasi lintas perbedaan dan perhatian kepada mereka yang berada di pinggir sistem sebagai ujian nyata kepemimpinan. Dari perspektif Peace Café, arti perubahan perlu dinilai dari apakah keputusan menghadirkan pelayanan yang lebih adil, memperluas kesempatan, dan memungkinkan lebih banyak orang berpartisipasi. Jika Anda mencari pembacaan yang mendukung sekaligus menguji klaim buku ini secara kritis, resensi Kolier menawarkan titik masuk yang kaya.

Pertanyaan yang ditinggalkan resensi ini: apakah institusi mampu memperbaiki dirinya sendiri ketika melakukan kesalahan?
Baca resensi lengkap di Orbit Indonesia ↗
Beyond the Book Launch · Instagram

A conversation that continues.

Buku ini juga mendapat perhatian Amb. Tantowi Yahya, President of United in Diversity Foundation, melalui akun Instagram-nya. Unggahan tersebut menghubungkan percakapan tentang kepemimpinan dengan khalayak yang lebih luas. Anda dapat melihat unggahan aslinya di bawah atau membuka tautannya secara langsung.

Dalam endorsement tertulisnya untuk buku, Tantowi menempatkan karya ini dalam perjalanan panjang United in Diversity membangun perubahan sistemik berbasis kesadaran. Ia menggambarkan bagaimana keberagaman, bila disertai keterbukaan dan kepercayaan, dapat menjadi sumber kecerdasan kolektif dan kolaborasi, bukan sekadar sesuatu yang perlu dikelola.

Tantowi juga melihat akar Indonesia yang kuat dalam perjalanan gagasan ini, khususnya semangat gotong royong. Buku mengajak pemimpin memeriksa sistem yang mereka huni dan sumber batin dari mana mereka bertindak. Dari sana, pertanyaannya meluas: bagaimana kesadaran dapat bertumbuh menjadi kepercayaan, dan bagaimana kepercayaan menjadi tindakan bersama yang layak dipercaya?

Perspektif tersebut membantu memahami relevansi buku di tengah berbagai sektor yang semakin saling bergantung. Untuk melihat foto, konteks, dan kata-kata Tantowi dalam unggahan Instagram-nya sendiri, silakan buka posting asli.

Catatan sumber: uraian di atas merangkum endorsement tertulis Tantowi, bukan kutipan dari caption Instagram. Teks unggahan Instagram belum tersedia untuk diverifikasi.

Lihat unggahan Instagram Tantowi ↗
Original Instagram Post · Amb. Tantowi Yahya

Lihat foto dan kata-kata Tantowi dalam unggahan aslinya, tanpa perlu meninggalkan halaman ini.

Lihat unggahan Instagram di sini

Jika Instagram membatasi pratinjau, buka langsung unggahannya.

From Reflection to Practice

Where might the conversation go next?

From reading the book toward seeing and sensing real challenges in the collective Heroic Journey.